66% Penderita Baru Virus Corona Akibat Berdiam Diri Dirumah

Bagikan

NEW YORK – Data acuan berasal dari 100 Rumah Sakit di New York yang melibatkan sekitar 1000 pasien menunjukkan 66% penderita baru karena virus corona adalah orang-orang yang berdiam di rumah dan tidak banyak keluar. Para Liberal dan medianya ramai mengejek Presiden Donald Trump ketika seminggu lalu memutuskan untuk negara-negara mengakhiri secara bertahap masa Lockdown mereka. Sekali lagi terbukti mereka salah berpikir “Jika kalian perhatikan, 18% orang datang dari rumah-rumah perawatan, kurang dari 1% datang dari penjara, 2% fasilitas-fasilitas perkumpulan, tetapi 66% orang datang dari rumah adalah mengejutkan kita,” ujar Cuomo.

Gubernur Andrew Cuomo menyebut informasi ini “mengejutkan.” Dan tentunya ini “tidak mengejutkan” untuk mereka yang berpegang pada “the common sense,” seperti contohnya dua dokter yang berpengalaman ini Dr. Daniel Erickson dan Dr. Artin Massihi. Mereka dalam videonya (28 April) berkata bahwa lockdown hanyalah memiliki pengaruh sedikit dalam menghadapi pandemik virus corona. Video ini dihapus setelah menjadi sangat viral ditonton lebih dari 5 juta; Tucker, reporter senior Fox Newsmempertanyakan mengapa Big Tech (seperti YouTube dan Google) mensensor video mereka tersebut.

Negara-negara kapitalis, seperti Skandinavia dan negara-negara Eropa utara lainnya menghadapi Virus Corona yang sedang pandemik ini dengan cara yang berbeda. Mereka menerapkan light lockdown: perkumpulan besar dilarang, tidak harus selalu di rumah, semua supermarket tetap buka, transportasi umum berjalan normal. Rakyat dan Pemerintah ada saling percaya; pemerintah memberi tuntunan dan rakyat melakukan terbaik mereka; tidak ada paksaan dan pukulan.

Senjata terbaik menghadapi pandemik COVID-19 memang bukan berdiam di rumah, tetapi menjaga kesehatan diri sendiri dan tetap aktif bekerja; mengisolasikan diri tidaklah mencegah orang dari ketularan virus. Pergi berjemur ke pantai, jalan-jalan di kebun justru akan menguatkan immunisasi orang, bukan sebaliknya.

Total lockdown karena COVID-19 walaupun hanya sekitar dua bulan, sekarang terbukti lebih buruk akibatnya bagi fisik dan mental manusia yang sehat bahkan menelan korban jiwa lebih banyak: tinggal di dalam rumah berminggu-minggu telah membuat banyak orang dari segala umum telah rusak kesehatan mereka akibat stress, cemas dan meningkatkan kejadian kekerasan fisik.

Hasil penelitian terbaru dikeluarkan oleh James Agresti dan Andrew Glen hubungan antara kehidupan seorang dengan lockdown. Mereka temukan bahwa lockdown sangatlah berperan penting dalam merusak kesehatan mereka

Yang pertama hasil ini berdasarkan dari survei dari 4 badan organisasi yang dilakukan antara awal Maret sampai pertengahan April.

Efek buruk lainnya dari lockdown yang berkepanjangan adalah rusaknya ekonomi negara yang bisa memicu kerusakan stabilitas negara secara keseluruhan. Presiden Trump yang dikelilingi oleh banyak penasehat karenanya telah memutuskan untuk menghentikan lockdown tersebut.

ruangseduh.jpg

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *