BANDAR LAMPUNG – Pendidikan merupakan dasar utama pembentuk suatu bangsa”. Ya itulah jargon yang sering kita dengar baik dari beranda tiktok, podcast, reels instagram, youtube, dan media sosial lainnya. Bahkan tidak jarang kita mendengar kalimat tersebut saat mengobrol santai dengan orang tua, dengan tetangga di sore hari, maupun mas-mas fotocopy langganan, semua menyerukan hal yang sama yaitu “Pentingnya pendidikan”.
Tapi kenapa pendidikan begitu penting?, sampai dikatakan sebagai pembentuk bangsa?, apakah pendidikan yang benar itu ketika sekolah tinggi dan lulus?, katanya ilmu itu bisa di dapatkan dimana saja, kok ada seruan wajib belajar 12 tahun?. Pertanyaan-pertanyaan itu akan kita ulas demi meluruskan satu kata “pendidikan”
Apa sih pendidikan itu?
Pendidikan itu penjelasan simpelnya adalah mencerdaskan seseorang. Mencerdaskan ketidaktahuan menjadi berpengetahuan, menjadikan manusia mempu berpikir dan mengambil keputusan, serta menentukan arah dalam proses pendewasaan diri melalui tanggung jawab. Proses belajar tidak mengenal waktu dan tempat, kita dapat belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Adanya proses belajar membuat seseorang mampu menilai benar dan salah serta menyikapinya dengan bijaksana.
Tujuan Pendidikan
Saya mengutip Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pendidikan yaitu “untuk memerdekakan manusia”. Beliau juga menambahkan bahwa manusia merdeka adalah mereka yang selamat raganya dan bahagia jiwanya. Semua manusia ingin bahagia, semua manusia ingin selamat dari kekhawatiran di esok hari. Pengetahua memang bisa didapatkan dimana saja seperti saat mengobrol dengan orang tua, tongkrongan teman dekat, forum diskusi mahasiswa, maupun saat membantu tukang memperbaiki mesin air yang rusak. Memang benar, pengetahuan bisa diperoleh di mana saja, bahkan dari pengalaman kecil sehari-hari. Namun, pendidikan memberi kita lebih dari sekadar tahu.
Pendidikan membantu kita memahami mengapa sesuatu terjadi, bukan hanya apa yang terjadi. Saat membantu tukang memperbaiki mesin air misalnya, kita bisa saja meniru langkah-langkahnya. Tapi dengan pendidikan, kita bisa memahami prinsip kerja mesin itu, sehingga ketika menemui kerusakan lain, kita punya dasar berpikir untuk mencari solusi baru.
Dari penjelasan itu pendidikan sangat perlu struktur dan sistematika yang jelas dan keberlanjutan, dan jawabannya adalah sekolah. Sekolah hadir bukan hanya sebagai tempat menyalurkan ilmu, tetapi juga sebagai wadah untuk membangun kebiasaan belajar yang terarah.
Beberapa orang bertanya begini, pada pelajaran bahasa indonesia misalnya emangnya penting ya saya tahu tentang perbedaan kata baku dan tidak baku?, memangnya kalo salah membedakan mana yang benar antara “apotek” dan “apotik” bakalan dilarang beli obat?, atau pada pelajaran fisika, ngapain sih ngitungin hubungan kecepatan dengan massa saat kereta berjalan pake rumus yang dinamakan momentum itu?, toh tinggal masuk kereta, duduk, lalu sampai.
Lalu pertanyaan selanjutnya bisa asumsikan, jadi dimana bahagianya?, bukannya bahagia malah capek. Wajar jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul, karena sering kali kita merasa apa, karena sering kali kita merasa apa yang dipelajari di sekolah tidak langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, pendidikan tidak hanya mengajarkan hal-hal praktis yang terlihat langsung manfaatnya, tetapi juga melatih cara berpikir. Misalnya, membedakan kata baku dan tidak baku mungkin tidak membuat kita dilarang membeli obat, tapi itu melatih ketelitian, kecermatan, dan kemampuan berbahasa yang baik agar komunikasi jelas.
Begitu juga dengan rumus momentum dalam fisika. Memang benar kita tidak menghitungnya ketika naik kereta, tetapi saat mempelajarinya, otak kita sedang dilatih untuk berpikir logis, sistematis, dan kritis. Bahagianya pendidikan bukan hanya pada hasil instan, tapi pada prosesnya. Saat kita mampu memahami sesuatu yang awalnya sulit, ada rasa puas tersendiri. Ketika kita bisa menggunakan pengetahuan itu untuk memecahkan masalah, kita merasa berguna.
Pendidikan memanusiakan manusia
Pernah dengar istilah “pendidikan memanusiakan manusia?”. Saya mendapatkannya ketika berdiskusi dengan salah seorang dosen saya yang berarti manusia akan dipandang bukan hanya sebagai makhluk yang butuh ilmu untuk bekerja, namun juga sebagai pribadi yang utuh dengan akal, rasa, dan moral. Istilah “pendidikan memanusiakan manusia” mengandung makna bahwa pendidikan tidak boleh terfokus hanya pada kecerdasan intelektual semata, melainkan juga harus menyentuh sisi kemanusiaan. Artinya, manusia perlu ditempa agar mampu menghargai dirinya sendiri, menghormati orang lain, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Dengan pendidikan yang memanusiakan, seseorang tidak akan diperlakukan seperti mesin yang hanya dituntut menghasilkan, melainkan diberi ruang untuk tumbuh sesuai potensi dan bakatnya. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya fokus pada pengembangan manusia secara utuh, bukan hanya pada nilai ujian, atau hasil post test, melainkan pada kemampuan seseorang untuk hidup sehat secara fisik, bahagia secara mental, dan bermanfaat bagi orang lain.
Terus kalo misalnya udah lulus sekolah, berarti kita udah jadi orang bener ya?
Ini akan menjadi sub judul terakhir tentang “kalo udah lulus sekolah, apakah kita sudah jadi orang bener?”. Jawabannya adalah “iya” tapi ada syaratnya, ilmu pengetahuan akan bermanfaat ketika kita menggunakan ilmu tersebut untuk kebaikan. Ilmu itu memiliki dua sisi teman-teman, yaitu baik dan buruk. Contohnya seperti keterampilan menulis, keterampilan tersebut akan bermanfaat apabila kita gunakan untuk membuat tulisan tentang edukasi, penyebaran informasi positif, atau karya yang menginspirasi orang lain. Namun, jika keterampilan itu digunakan untuk menyebarkan berita palsu atau konten yang merugikan, maka dampaknya justru negatif.
Oleh karena itu, lulus sekolah dan memiliki ilmu pengetahuan hanyalah permulaan dan yang terpenting adalah bagaimana kita mengaplikasikan ilmu tersebut demi kebaikan untuk diri sendiri maupun masyarakat sekitar.
Demikian, menjadi “orang benar” bukan hanya soal gelar atau ijazah, melainkan bagaimana kita menggunakan ilmu dan kemampuan kita untuk memberikan manfaat yang positif. (Artikel Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNILA : Muhammad Fadlan Arief)
